MENDENGKUR BISA SEBABKAN STROKE

on Minggu, 02 Januari 2011
MENDENGKUR, kondisi yang paling ingin dihindari ini, menyerang 40 persen pria secara musiman dan 25 persen pria lainnya menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Adapun wanita yang mendengkur hanya ada 5-10 persen. Apabila dengkuran sudah menjadi bagian dari kebiasaan, hendaknya perlu dilakukan beberapa tindakan penanggulangan.
Sementara itu, apnea adalah sebuah keadaan saat pernapasan berhenti. Apnea yang terjadi kala tidur disebut apnea tidur (sleep apnea). Dalam apnea tidur obstruktif, terdapat penghentian aliran udara kendati upaya pernapasan pada saat tidur memang menurunkan kadar oksigen dalam darah dan akumulasi karbon dioksida. Otak memerlukan kadar oksigen yang konstan sehingga jantung harus selalu berupaya memompa lebih keras guna memberikan kadar oksigen yang tepat ke otak kala tidur.
Jangka panjangnya, hal ini dapat memicu terjadinya stroke atau risiko penyakit jantung lainnya. Otak diharapkan mampu mengirimkan sinyal ke jantung untuk meningkatkan pengeluaran dan meringankan aktivitas tidur sebagai hasil peningkatan tonus otot serta berkurangnya sumbatan saluran napas bagian atas. Rangkaian kejadian ini diharapkan dapat mengatasi gangguan yang dialami penderita kurang tidur dan mengurangi rasa kantuk berlebih pada siang hari.
Kondisi lain adalah sindrom tahanan saluran napas bagian atas, yang merupakan area abu-abu antara mendengkur dan sindrom apnea tidur. Pada kondisi ini terjadi penghentian parsial aliran udara yang mengakibatkan meningkatnya intensitas terbangun pada malam hari, seperti yang terjadi pada sindrom apnea tidur dengan mekanisme yang berbeda. Penderita sindrom ini juga mengalami rasa kantuk yang berlebih pada siang hari, dengan angka polisomnografi mendekati normal dan peningkatan indeks gairah.
Gejala klinis sindrom apnea tidur terbagi menjadi dua bagian, yakni kala tidur dan kala siang. Kala tidur penderita mengeluarkan suara dengkuran, tersedak, terengah-engah, gelisah, sering buang air kecil, dan mengeluarkan keringat berlebih. Sementara kala siang penderita mengalami rasa kantuk berat, nyeri kepala pada pagi hari, lebih rentan tersulut emosi, penurunan kinerja seksual, dan tampak depresi/cemas.
Mengorok dan sindrom apnea tidur kerap terjadi di masyarakat. Usia penderita yang mengalami gangguan ini memiliki rentang yang cukup lebar. Kendati anak-anak hendaknya tidak mengorok atau bernapas dengan mulut, beberapa kasus ditemukan pada penderita anak yang mengalami pembesaran tonsil dan adenoid. (kompas.com)