A Walk To Remember

on Sabtu, 17 September 2011


Jammie Sullivan, seorang gadis cantik berusia belasan tahun yang hidupnya selalu diabdikan untuk membantu, menolong bahkan menyenangkan orang lain. Ia tidak pernah menyakiti siapapun sehingga tak satupun orang yang tidak menyukai berada bersamanya. Ia selalu berharap apapun yang dilakukannya bisa bermanfaat dan sangat berarti bagi orang lain, terlebih bagi orang-orang terdekatnya ia senantiasa ingin melakukan yang terbaik. Cerdas, menyenangkan, menghormati sesama, dan tentu sangat agamis. Dialah sosok yang diceritakan Nicholas Sparks dalam novelnya yang berjudul A Walk To Remember yang kemudian difilmkan dengan judul yang sama dengan pemeran utama Mandy Moore sebagai Jammie.
Apa yang dilakukan Jammie, tentu ada yang membuatnya melakukan itu semua selain karena memang secara fitrah setiap manusia diajarkan untuk senantiasa memperbaiki perbuatan baiknya dari hari ke hari dan terus menerus. Tetapi juga, dalam cerita tersebut karena sang gadis tahu bahwa waktunya tinggal sesaat karena penyakit leukemia yang dideritanya.
Sudah menjadi tabiat seseorang yang sudah mengetahui bahwa waktu hidupnya di dunia tak lama lagi biasanya karena vonis dokter atas penyakit yang dideritanya atau karena usia yang sudah lanjut untuk menghabiskan sisa waktunya dengan perbuatan dan amal-amal yang bernilai baik disisi Allah maupun di mata manusia. Masalahnya kemudian, ini seolah hanya menjadi ritual orang-orang yang memang sudah tahu waktunya sudah dekat, sementara masih jauh lebih banyak orang-orang yang merasa ajalnya masih jauh.
Setiap manusia pasti merasakan mati, namun kepastian datangnya maut itu sendiri tetap menjadi rahasia Allah. Maka kemudian, beruntunglah orang-orang yang senantiasa mengingat mati sehingga ia begitu takut akan datangnya hari itu sementara belum banyak hal baik yang dilakukan, belum bernilai amal-amal perbuatannya, dan terasa belum menjadi bekal yang cukup untuk perjalanan panjang kehidupan akhirat. Orang-orang yang kerap mengingat mati, tentu sangat takut untuk melakukan hal-hal buruk, baik terhadap Tuhannya maupun kepada makhluk lain. Mereka tentu sangat ingin waktu hidupnya begitu berarti, bernilai dan berhasil sehingga Allah pun tak segan-segan memasukannya ke dalam golongan orang-orang yang selamat. Tidak hanya itu, perbuatan baiknya selama di dunia terhadap orang lain juga diharap mampu meringankan jalannya menuju surga Allah, kalaupun ada rintangan dan adzab yang mesti dilaluinya, sedikitnya terbantu oleh do'a orang-orang yang ditinggalkannya.
Namun demikian, rahasia Allah akan waktu mati juga membuat kenyataan bahwa tidak semua manusia sadar akan pentingnya mengingat mati agar pada saatnya nanti ia sudah siap dengan perbekalan yang cukup dan juga pada saat itu tiba ia tetap dalam keadaan beriman. Karena ternyata, tidak sedikit manusia lupa bahwa masa itu benar-benar akan datang sehingga mereka lalai dan terlena dalam kehidupan dunia. Sampai pada puncak dari kecintaannya pada kehidupan dunia, ia pun teramat sangat takut akan datangnya maut. Bahkan banyak pula orang-orang yang tidak menyadari bahwa ajal begitu dekat, sedekat nafas yang berhembus dari kerongkongan, lebih dekat dari darah yang mengalir di tubuh dan jauh lebih dekat dari jarak antara setiap detak jantung manusia. Hingga pada hari itu tiba, tak sedikitpun amal kebaikan terisi dalam kantong perbekalannya. Jika demikian, apakah tak merasa malu berdiri dihadapan-Nya dengan tangan hampa sementara orang lain disekelilingnya berlomba memperbanyak isi kantong perbekalannya untuk dihitung di hari akhir?
Disamping itu, perlu juga rasanya sesaat kita menengok orang-orang yang telah mengukir namanya begitu indah sehingga puluhan, ratusan tahun sesudah kepergiannya pun ada mudah-mudahan banyak orang yang selalu mengenangnya. Meski apa yang dilakukannya tidak dimaksudkan untuk mengukir nama, karena memang bukan itu tujuan dari amal, jasa dan perbuatan baiknya dilakukan. Namun demikian tetap saja, amal mulianya itu mampu memahatkan nama dan kenangan secara mendalam pada lembar hati setiap orang yang mengenalnya. Orang-orang yang rela mati demi memperjuangkan kemerdekaan bagi negeri, bukan gelar pahlawan yang mereka cari. Begitu juga dengan para guru, orangtua dan orang-orang terkasih, terdekat, terhebat yang begitu berarti bagi kehidupan orang banyak, tentu nama mereka akan selalu dikenang, meski bukan itu yang dituju. Namun, bukankah itu menjadi keindahan tersendiri? bayangkan saat kita mati dalam keadaan yang baik, dengan perbekalan yang cukup dan kepergian kita ditangisi banyak manusia, diharapkan kedatangan kita oleh Allah dan para malaikat dengan tangan terbuka, sementara orang-orang yang kita tinggalkan selalu mengenang kehidupan bersama kita. Wallahu a'lam bishshowaab